GLOBAL FINANCIAL CRISIS

GLOBAL FINANCIAL CRISIS (SUBPRIME MORTGAGE CRISIS)

A. Pendahuluan

Amerika Serikat merupakan Negara yang mempunyai kapasitas ekonomi terbesar di dunia. Aktivitas keuangan Amerika Serikat menyebar ke seantero dunia, baik disekor perbankan maupun pasar modal. Liberalisasi sektor keuangan menjadi dasar aktivitas spekulasi baik di pasar modal maupun pasar uang. Pasar keuangan derivatif menimbulkan praktek kapitalisasi melalui rekayasa keuangan (financial engenering) di pasar keuangan dunia. Pelipat gandaan uang dari utang di atas utang (CDOs) dan penjaminan di atas penjaminan (CDS) menimbulkan penggelembungan ekonomi (economy bubble). Masyarakat Amerika  dipaksa hidup di atas kemampuan finansialnya melalui kartu kredit,  kredit perumahan kelas dua (bernilai rendah), dan bentuk konsumerisme lainnya. Hal ini yang menyebabkan terjadinya krisis subprime mortgage, karena lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit perumahan bangkrut disebabkan kesulitan likuiditas.

Oleh sebab itu, terjadinya krisis keuangan di Amerika Serikat kemudian menjalar ke pasar keuangan Negara-negara lain yang membeli instrumen keuangan perbankan Amerika Serikat yang menjadi krisis keuangan global

B.  Penyebab Terjadinya Krisis Keuangan Global

Berbagai analisis tentang apa penyebab terjadinya krisis keuangan global yang bermula dari krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang kemudian menjalar ke bursa efek di seluruh dunia.

1.   Turunnya suku bunga. Pada tahun 2001-2005 terjadi pertumbuhan yang sangat pesat sektor perumahan, karena turunnya suku bunga perbankan. Sejak tahun1995 industri dotcom (saham-saham teknologi tinggi) di Amerika Serikat mengalami booming, tetapi kemudian bankrut yang menyebabkan banyak industri dotcom tidak mampu membayar pinjaman bank. Untuk menyelamatan industi dotcom, The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) menurunkan suku bunga. Turunnya suku bunga mendorong spekulasi.

2.   Subprime Mortgage. Turunnya suku bunga dimanfaatkan industri perumahan dan perusahaan pembiayaan perumahan untuk membangun rumah murah dan menjual dengan skema subprime mortgage (Kredit Pemilikan Rumah/KPR murah). Pemberian kredit perumahan dalam jumlah besar pada nasabah yang tidak layak (subprime) dengan bunga variabel yang mencapai USD 1,2 trilyun. Kemudian tahun 2004-2006 terjadi gelembung di sektor perumahan dan terjadi koreksi atas harga perumahan serta suku bunga naik dari 1% menjadi 5,25%. Naiknya suku bunga membuat banyak warga Amerika gagal bayar cicilan subprime mortgage, karena harga rumah yang dikredit melambung tinggi.

3.   Collacteralized Debt Obligations (CDOs). Berkembangnya sektor keuangan memunculkan instrumen derivatif CDOs atau obligasi beragun aset (disekuritisasi) dengan kredit perumahan di Amerika Serikat, yang mencapai USD 480 milyar subprime credit yang telah diubah menjadi  CDOs dan dijual ke investor di seluruh dunia. Tingginya suku bunga menyebabkan macetnya kredit subprime mortgage yang pada gilirannya menyebabkan bank dan lembaga pembiayaan perumahan gagal bayar pada pemegang CDOs.

4.   Credit Default Swap (CDS). Tahun 2005 aktivitas sekuritisasi mengalami perkembangan sangat pesat dan memunculkan surat utang jenis lain yaitu CDS atau perlindungan terhadap kredit gagal bayar. CDS merupakan kesepakatan dua bank, misalnya bank A sebagai penjual swap (pembeli proteksi) setuju untuk membayar sejumlah uang dalam periode tertentu kepada bank B selaku pembeli swap (penjual proteksi) untuk sejumlah portofolio pinjaman. Bank B berkomitmen untuk memproteksi agar bank A tidak rugi dari portofolio pinjamannya selama masa penjaminan. Hingga pertengahan 2007 kontrak CDS diperkirakan mencapai USD 42,6 trilyun. Sedangkan kapitalisasi pasar saham Amerika Serikat sebesar USD 18,5 trilyun, dan pasar surat berharga pemerintah hanya sebesar USD 4,5 trilyun. CDS ini yang membangkrutkan American International Group (AIG), perusahaan asuransi terbesar di dunia yang berkantor pusat di New York yang akhirnya 85% sahamnya diambilalih pemerintah Amerika Serikat.

5.   Defisit anggararan belanja yang terus meningkat mencapai USD 415 miliar yang dibiayai modal dari berbagai negara terutama dari China, dan membuat Amerika Serkat mengalami peningkatan utang hingga mencapai USD 11,7 trilyun.

6.   Commodity Futures Trading Commision (CFTC) merupakan lembaga pengawas keuangan tidak mengawasi secara baik pada Inter Continental Exchange (ICE) yaitu sebuah lembaga yang melakukan aktivitas perdagangan berjangka. ICE turut berperan melambungnya harga minyak dunia ke kisaran USD 140 per barel.

7.   Membengkaknya anggaran perang Irak dan Afganistan.Centre for Strategic and Budgeting Assesments memperkirakan biaya pendudukan di Irak saja selama 5 tahun  akan menghabiskan dana USD 100 miliar. Biaya membangun kembali Irak bisa mencapai USD 75 miliar sampai dengan USD 100 miliar dalam 5 tahun.

C. Institusi yang Berperan Terjadinya Krisis Keuangan Global

BBC menyebutkan aktor-aktor yang berperan dalam krisis keuangan global, antara lain adalah :

1.  Kreditor Perumahan Murah

Banyak perusahaan di Amerika Serikat memiliki spesialisasi dalam memberikan kredit perumahan bagi orang-orang yang sebenarnya tidak layak diberikan kredit subprime lenders. Perusahaan tersebut berani memberikan kredit karena jika terjadi gagal bayar para nasabah, perusahaan akan menyita dan menjual rumahnya. Untuk membiayai kredit perumahan, perusahaan umumnya meminjam dari pihak lain dengan jangka waktu pendek antara 1-2 tahun. Sementara kredit yang dibiayai  merupakan kredit perumahan berjangka panjang sampai 20 tahun, sehingga terjadi ketimpangan kredit (credit mismatch). Akibat gagal bayar nasabah membuat banyak perusahaan kredit perumahan tidak mampu membayar kembali utangnya yang berakibat bangkrutnya perusahaan tersebut. Saham perusahaa lain yang tidak bangkrut, ikut mengalami imbas negatif dan turunnya nilai saham karena investor  menarik diri. Selain pinjaman dari pihak ketiga, perusahaan pembiayaan kredit perumahan juga menerbitkan surat utang beragun asset (CDOs) yang dijual keberbagai bank dan investor di Negara-negara lain. CDOs merupakan instrumen keuangan  membagi risiko. Namun yang terjadi sebaliknya, kekhawatiran terhadap kemungkinan gagal bayar para debitor yang tidak layak tersebut justru berdampak negatif bagi pemegang CDOs.

2.  Perusahaan Pemeringkat

Moody’s dan Standard and Poor’s merupakan perusahaan pemeringkat yang diduga ikut ambil bagian dalam krisis subprime mortgage. Perusahaan pemeringkat dinilai terlalu lamban mengantisipasi gagal bayar kredit perumahan. Padahal tugas perusahaan pemeringkat adalah mengevaluasi surat utang dan instrumen keuangan lainnya dan memberikan peringkat yang mencerminkan risiko instrumen keuangan tersebut.

3. Bank Investasi (Investment Bank)

Bear Strearns, Morgan Stanley, dan Goldmas Sachs merupakan bank investasi yang ikut terlibat dalam krisis subprime mortgage. Bank investasi tersebut mempunyai spesialisasi menciptakan instrumen keuangan seperti CDOs yang dijual ke perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Bank investasi ini juga terkena imbas dan merugi, karena investasinya terkait dengan utang berisiko tinggi. Sementara Bank Sentral dan Manajer investasi (Private equity fund) yang paling besar terkena imbas krisis.

Manajer investasi umumnya meminjam uang dengan bunga rendah yang digunakan untuk membeli saham di bursa. Saham yang dibeli dijaga performanya agar investor lain tertarik untuk membelinya. Tetapi dalam kenyataannya saham yang dibeli harganya turun, karena terkena dapak krisis keuangan tersebut. Sedangkan Bank Sentral seperti US Federal Reserve (The Fed), Bank of England (BoF), dan European Central Bank (ECB) sebagai pihak yang merancang tingkat suku bunga untuk mengontrol inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Tingkat suku bunga rendah itulah yang memicu investasi besar-besaran di sektor perumahan. Tetapi dengan terjadinya krisis keuangan memaksa Bank Sentral mengeluarkan dana yang besar untuk memasok kebutuhan dana kas.

D. Dampak Krisis Keuangan Global

Sejak terkuaknya krisis subprime mortgage pada Juli 2007, tidak terdapat indikasi bahwa para kreditor dan investor subprime mortgage mengalami kekhawatiran dan kepanikan yang tinggi. Selama masa itu, mungkin sekali masih melakukan perhitungan kerugian dan mencari jalan untuk mengatasinya.

Hingga tiba kejutan yaitu tanggal 15 September 2008 Lehman Brothers yang merupakan salah satu lembaga keuangan terbesar di Amerika Serikat dan dunia menyatakan bangkrut. Lehman Brothers gagal bayar (defaults) atau tidak mampu bayar kewajibannya, karena tidak menerima pembayaran atas aset atau investasinya, sehingga menjadi tidak likuid dan insolvent. Karena mengalami kondisi keuangan yang sama, keputusan Lehman Brothers diikuti oleh lembaga keuangan para kreditor dan investor lainya, dengan menyatakan bukan pailit tapi rela diakuisisi dan merger serta minta tolong penyuntikan dana. Merril Lynch rela diakuisisi oleh rivalnya yaitu Bank of America. Pemerintah melakukan penyelamatan terhadap Bear Sterns, Fannie Mae, Freddie Mac, Indy Mac. Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) memberi dana talangan kepada perusahaan asuransi American International Group (AIG). Lembaga keuangan lainnya termasuk UBS dan Morgan Stanley dan Goldman Sachs menunggu untuk ditolong dengan penyuntikan dana oleh Pemerintah atau pihak lain termasuk JP Morgan yang kondisinya tidak separah yang lain.

Selanjutnya, keputusan lembaga-lembaga keuangan Amerika Serikat itu menyebabkan para lembaga keuangan melakukan aksi jual aset berupa saham dan surat berharga lain baik yang berasal dari Amerika Serikat  maupun dari negara-negara lainnya. Aksi ini menyebabkan kejatuhan harga dan indeks harga saham di Amerika Serikat maupun di negara lain.

Isu adanya pemisahan perekonomian Amerika Serikat dengan perekonomian Negara sedang berkembang tidak terjadi. Dalam jangka menengah, penurunan kinerja perekonomian Amerika Serikat tidak akan diikuti oleh memburuknya perekonomian Negara kuat dunia yang diwakili Rusia, Brazil, China, dan India. Laporan yang diterbitkan oleh lembaga keuangan Goldmn Sachs Inc. menyatakanakan terjadi pemisahan (decoupling) perekonomian Amerika Serikat dengan perekonomian Negara sedang berkembang. Isu decoupling tidak terjadi setelah perekonomian China tertular krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Pemerintah China mengeluarkan dana miliaran USD untuk menstabilkan perekonomiannnya yang mengalami penurunan. Pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2008 tumbuh 9,0% turun drastis pada tahun 2009 yang diprediksi hanya tumbuh 6,7%.

Keterkaitan antar pasar keuangan (Financial Market) Amerika Serikat dengan pasar keuangan Negara-negara lain, menyebabkan tidak adanya Negara yang steril terhadap dampak dari krisis tersebut. Hal ini yang menyebabkan terjadinya krisis keuangan global yang mengancam stabilitas perekonomian banyak Negara.

Krisis keuangan global telah merontokkan indeks harga saham gabungan di seluruh bursa terkemuka di dunia. Pada tanggal 15 September 2008 Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 4.42%, Indeks FTSE 100 London turun 3,92%, CAC 40 di Paris turun 3,78%, dan DAX Frankfurt turun 2,74%  dan semakin hari turun tidak terkendali. Keadaan ini pula yang menyebabkan Departemen Keuangan RI tanggal 8 Oktober 2008 menutup Bursa Efek Indonesia (BEI), kerena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 10,38%.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi krisis tersebut dengan mengucurkan rencana bantuan senilai USD $993 miliar yang merupakan dana talangan sebagai upaya menyelamatkan bank-bank yang kolaps. Begitu pula Negara-negara Eropa dan Asia mengucurkan miliaran dollar untuk menyelamatkan pasar keuangan dan upaya menstabilkan perekonomiannya.

Penurunan Indeks Bursa

26 September 2008 – 10 Oktober 2008

NEGARA INDEKS BURSA
Kanada -25.50%
Rusia -39.40%
Australia -20.20%
Inggris -22.70%
Korea -15.90%
Hongkong -20.80%
Amerika -24.20%
Jepang -30.40%
Indonesia -21.40%

Dampak yang lain dari krisis keuangan global yaitu pertumbuhan ekonomi global tahun 2009 diprediksi mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun 2008. Turunnya pertumbuhan ekonomi dunia mempunyai konsekuensi semakin meningkatnya pengangguran dan penduduk miskin.

Prediksi Pertumbuhan Ekonmi Dunia

Tahun 2009

NEGARA 2008 2009
PDB Dunia 3,4% 0,5%
Negara Maju 1,0% -2.0%
USA 1,1% -1.6%
Euro Area 1,0% -2.0%
Jepang 0,3% -2.6%
Inggris 0,7% -2.8%
Afrika 5,2% 3.4%
Asia 7,8% 5.5%
Tiongkok 9,0% 6.7%
India 7,3% 5.1%
Indonesia 6,0% 4.7%

Sumber: IMF

E. Kebijakan Dalam Mengatasi Krisis Keuangan Global

Mengatasi penurunan kinerja perekonomian Amerika Serikat, The Fed melakukan langkah-langkah penyelamatan untuk menstabilkan perekonomian.

1.   The Fed bersama Bank Sentral Negara-negara maju mengeluarkan dana  segar miliaran USD untuk mengatasi likuiditas di pasar modal yang terkena dampak subprime mortgage, dengan mengucurkan dana ke pasar uang dengan memasuki transaksi Repo (Repurchase Agreement). Hal ini dimaksudkan menimbulkan sentimen positif di bursa dan menstabilkan nilai tukar. Diawali 9 Agustus 2007 The Fed mengeluarkan dana USD 30 miliar untuk menjaga likuiditas investor subprime mortgage yang merugi. Pada 10 Agustus 2007 The Fed mengucurkan dana tambahan USD 36 miliar dan ditambah lagi hingga 16 Agustus 2007 mencapai USD 29 miliar.

The Fed juga menyuntikkan dana ke sistem perbankan dan keuangan untuk memulihkan stabilitas di sektor keuangan. Pada 9-10 Agustus 2007 The Fed menyuntikkan dana USD 24 miliar dan USD 68 miliar. Sedangkan di Eropa, The European Central Bank (ECB) pada 10 Agustus 2007 menyuntikkan dana USD 61 miliar. Pada 13 Agusus 2007, ECB menyuntikkan dana segar lagi USD 47,67 miliar. Sedangkan di Jepang, The Bank of Japan (BoJ) menyuntikkan dana 600 miliar Yen.

2.   Suku bunga sebagai pemicu utama dari krisis subprime mortgage karena suku bunga 2004-2007 naik dari 1,0% menjadi 6,25%, kredit perumahan macet sebab penghasilan nasabah tidak meningkat. Oleh sebab itu, pada 17 Agustus 2007 The Fed menurunkan suku bunga diskonto sebesar 50 bps dari 6,25% menjadi 5,75%. Penurunan suku bunga tersebut dilakukan The Fed berturut-turut untuk memberi kelonggaran bagi nasabah subprime mortgage membayar pinjamannya. Hal ini berarti surat utang yang berbasis subprime mortgage yang banyak dipegang investor di seluruh dunia kembali memperoleh jaminannya dan meningkatkan nilainya.

Penurunan Suku Bunga The Fed

NO TANGGAL BESARAN

(BPS)

AWAL

(%)

TARGET

(%)

1 18 September 2007 50 5.25 4.75
2 31 Oktober 2007 25 4.75 4.50
3 12 Desember 2007 25 4.50 4.25
4 23 Januari 2008 75 4.25 3.50
5 31 Januari 2008 50 3.50 3

Sumber: Bloomberg

3.   Pemerintah Amerika Serikat melakukan langkah penyelamatan terhadap institusi keuangan dengan membeli saham, diakuisisi perusahaan lain, atau mendapat dana talangan. Langkah ini sebetulnya melanggar prinsip liberalisasi ekonomi yang dianut bangsa Amerika Serikat yang tidak menghendaki campur tangan Pemerintah terlalu besar. Tetapi setelah terjadi krisis subprime mortgage yang mengakibatkan banyak institusi keuangan bangkrut,  justru perusahaan dan para pelaku ekonomi minta bantuan Pemerintah.

Institusi Keuangan yang Memerlukan Penyelamatan

NO TANGGAL NAMA PERUSAHAAN KETERANGAN
1 16-Maret-2008 Bear Strearns (bank investasi) Dijual ke JP. Morgan Chase sebesar USD 236 juta.
2 7-Sept-2008 Freddie Mac dan Fannie Mae

(perusahan pembiayaan perumahan)

Diambilalih Dep. Keu. AS dan men jamin utangnya USD 100 miliar
3 15-Sep-2008 Lehman Brothers (bank investasi)

Marrill Lynch

-Bangktrut

-Diakuisisi Bank Of America

USD 50 miliar

4 16-Sept-2008 American International Group/AIG

(perusahan asuransi terbesar AS)

Pemerintah AS memberi pinjaman USD 85 miliar dan The Fed meng- injeksi pasar USD 50 miliar
5 21-Sept-2008 Goldman Sachs dan Morgan Stanley (bank investasi) Bangkrut dan menjadi holding bank
6 26-Sept-2008 Washington Mutual (WAMU)

(bank terbesar AS)

Bangkrut dan sebagian asset dibeli JP Morgan Chase USD 1,9 miliar
7 21-Nov-2008 Citigroup Inc

(bank terbesar kedua AS)

Menerima dana talangan (bailout) USD 306 miliar

4.   Pemerintah Amerika Serikat  melakukan program penyelamatan ekonomi darurat (bailout) yang pada pemerintahan Barack Husein Obama disetujui sebesar USD 993 miliar. Selain dari pajak yang dibayar rakyat Amerika, dana tersebut dicarikan dari penerbitan obligasi. Dana talangan tersebut untuk program penyelamatan baik institusi keuangan maupun non-keuangan seperti perusahaan otomotif General Motor (GM), Ford, dan Chrysler (Big Three) yang memperoleh dana talangan USD 17,4 miliar.

5.   Program stimulus untuk mengantisipasi ancaman resesi global tidak hanya dilakukan Pemerintah Amerika Serikat, tapi juga dilakukan Negara-negara Uni Eropa, Rusia, Jepang, China, Australia, Korea Selatan, dan Negara Asean.

Paket Stimulus Global

NO NEGARA STIMULUS NO NEGARA STIMULUS
(USD MILYAR) (USD MILIAR)
1 Australia 6,80 11 Kanada 32,20
2 Singapura 13,70 12 Uni Eropa 256,90
3 Thailand 1,37 13 Rusia 20,00
4 Malaysia 2,00 14 Tiongkok 2.046,60
5 Indonesia 6,00 15 Korea Selatan 10,10
6 Jepang 437,00 16 India 10,00
7 Amerika Serikat 993,00 17 Italia 102,8
8 Inggris 67,00 18 Spanyol 89,90
9 Jerman 67,00 19 Prancis 33,40
10 Selandia Baru 3,50 20 Norwegia 2,80

Krisis subprime mortgage yang terjadi di USA menjalar ke seluruh pasar keuangan dunia. Krisis keuangan seperti ini akan terus terjadi secara berulang, hanya yang berbeda faktor-faktor penyebabnya yang berbeda. Banyak para ahli berpendapat bahwa hal ini terjadi karena adanya “cacat bawaan” dari Sistem Kapitalis, karena dalam Sistem kapitalis uang menjadi “Komoditas”. Jadi memungkinkan terjadinya buble economy, di mana sektor moneter lebih besar dari sektor riil yang merupakan cikal bakal terjadinya krisis keuangan dunia.