Apakah Dampak Krisis Keuangan Global Terhadap Perekonomian Indonesia?

Dampak subprime mortgage secara langsung terhadap perbankan di Indonesia memang tidak ada. Hal ini disebabkan perbankan Indonesia tidak memungkinkan membeli surat utang seperti subprime mortgage karena peraturan Bank Indonsia melarangnya, sehingga perbankan Indonesia steril dari subprime mortgage. Peraturan BI No. 7/31/PBI/2005 telah mengatur bahwa bank boleh terlibat dalam transaksi derivatif terbatas pada transaksi yang berhubungan dengan mata uang dan suku bunga. Peraturan BI itu juga mengatur batas maksimum kerugian transaksi yang boleh ditanggung sebesar 10% dari modal bank.  Berdasarkan aturan tersebut dan dihubungkan dengan kondisi nilai tukar Rupiah terhadap USD yang mengalami depresiasi cukup tajam, bisa dipastikan jika terjadi kerugian transaksi derivatif bank berasal dari transaksi dervatif mata uang baik dalam bentuk futures, option, maupun forward.

Ada salah satu Bank yang mendapat perhatian Bank Indonesia, karena mempunyai transaksi derivatif sekitar 62% dari total asset per akhir September 2008. Posisi derivatif tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan bank-bank lain yang punya transaksi derivatif yang rata-rata hanya 2%.

Continue reading “Apakah Dampak Krisis Keuangan Global Terhadap Perekonomian Indonesia?”

GLOBAL FINANCIAL CRISIS

GLOBAL FINANCIAL CRISIS (SUBPRIME MORTGAGE CRISIS)

A. Pendahuluan

Amerika Serikat merupakan Negara yang mempunyai kapasitas ekonomi terbesar di dunia. Aktivitas keuangan Amerika Serikat menyebar ke seantero dunia, baik disekor perbankan maupun pasar modal. Liberalisasi sektor keuangan menjadi dasar aktivitas spekulasi baik di pasar modal maupun pasar uang. Pasar keuangan derivatif menimbulkan praktek kapitalisasi melalui rekayasa keuangan (financial engenering) di pasar keuangan dunia. Pelipat gandaan uang dari utang di atas utang (CDOs) dan penjaminan di atas penjaminan (CDS) menimbulkan penggelembungan ekonomi (economy bubble). Masyarakat Amerika  dipaksa hidup di atas kemampuan finansialnya melalui kartu kredit,  kredit perumahan kelas dua (bernilai rendah), dan bentuk konsumerisme lainnya. Hal ini yang menyebabkan terjadinya krisis subprime mortgage, karena lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit perumahan bangkrut disebabkan kesulitan likuiditas.

Continue reading “GLOBAL FINANCIAL CRISIS”